PEMBAHASAN KE EMPAT : KEYAKINAN KEPADA PARA UTUSAN ALLAH 'ALAHIMUS SALAAM (10)

Soal
Hal apa saja kah yg Yajuuz (boleh) ada pada diri para Nabi 'Alaihimus Salam ?
Jawab
Dibolehkan ada pada diri para Nabi segala macam sifat kemanusiaan yg tidak mengurangi derajat kemulyaan mereka, seperti makan dan minum, lapar dan haus, menghindar dari panas dan dingin, capek dan istirahat, sakit dan sehat, begitupun berdagang dan bekerja dengan pekerjaan tertentu yg tidak nista, karena mereka adalah manusia yg boleh melakukan apa yg dilakukan manusia selain hal2 yg dapat mengurangi derajat kemulyaan mereka.
Soal
Apakah hikmah di balik penyakit dan rasa sakit yg dialami oleh para Nabi Alaihimus Salam ?
Jawab
Hikmah di balik itu semua – meski adalah manusia terbaik dan bebas dari dosa, adalah agar dilipatkan pahala serta semakin memperjelas ketaatan, komitmen dan kesabaran mereka kepada Allah Subhaanahu Wata'ala. Juga semua itu disebabkan agar umat manusia berpedoman (mencontoh) mereka ketika mereka ditimpa bala' dan berputus asa.
Dan juga agar umat manusia mengetahui bahwa dunia adalah tempat bencana dan cobaan, bukan tempat yg penuh kemulyaan dan kebaikan semata. Hikmah lain adalah agar para Nabi tersebut mensifati diri mereka dengan sifat ketuhanan karena telah melihat keluarnya mu'jizat yg jelas dari dirinya, dan menyadari bahwa semua itu terjadi karena izin dan ciptaan Allah Ta'ala semata. Bukan yg selainNya. Hikmah berikutnya adalah bahwasanya meskipun mereka berkemampuan dan kehebatan yg tinggi, mereka tetaplah seorang hamba Tuhan yg lemah g tidak bisa mendatangkan manfaat dan menolak bahaya.

PEMBAHASAN KE EMPAT : KEYAKINAN KEPADA PARA UTUSAN ALLAH 'ALAHIMUS SALAAM (9)

Soal
Jika memang sifat durhaka tidak terdapat pada diri para Nabi, maka bagaimanakah dengan peristiwa Nabi Adam yg memakan buah khuldi yg dilarang untuk dimakan ?
Jawab
Sesungguhnya peristiwa itu terjadi karena Nabi Adam dalam keadaan lupa. Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman dalam Surat Thaaha 115 :
“ Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat “.
Dan orang yg lupa tidaklah terhitung durhaka dan tidak dimintai pertanggung jawaban. Adapun penisbatan dosa bagi Adam dalam firman Allah subhaanahu wata'ala dalam surat Thaaha 121:
“ Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.”
Maka Allah memilih Adam dan Adampun bertaubat kepadaNya sehingga Allah memberinya petunjuk (hidayah). Karena sumber kesalahan kepada Allah adalah karena lupa yg timbul dari kesadaran penuh Adam. Sementara kesalahan yg diperbuat semata mata karena lupa tidaklah terhitung sebagai dosa bagi pelakunya. Namun hal itu (melakukan kesalahan karena lupa) terhitung sebagai maksiyat bagi Nabi Adam untuk menunjukkan kemulyaan kedudukan beliau dan ketinggian derajatnya. Meski kesalahan itu kecil namun dianggap sebagai kesalahan besar. Adapun keputusan Allah Subhaanahu Wata'ala kepada Adam karena kesalahannya – yaitu menurunkannya ke dunia ini , pengakuan Adam akan kesalahannya dan terus
menerusnya Adam beristighfar – maka hal itu semata mata untuk menambah ketinggian derajat Adam. Karena hal itu membuat pahala dan kebaikannya bertambah.
Semua itu juga dianalogikan bagi setiap kesalahan dan dosa yg diperbuat oleh para Nabi. Karena kesalahan itu dirangkaikan dengan ketinggian kedudukan mereka, dan kesalahan mereka semata mata terjadi karena berhubungan dengan kesempurnaan ketaatan mereka kepada Allah. Kesalahan dan dosa itu tidak terjadi sebagaimana yg terjadi pada manusia selain mereka karena perbuatan itu terjadi disebabkan taawwul atau karena lupa dan tanpa sengaja. Adapun kesadaran dan permohonan ampuna mereka atas kesalahan tersebut, hal itu adalah sebagai sarana menambah ma'rifat (pengetahuan) mereka akan Tuhannya, ketinggian wara' (kehati hatian) serta taqwa mereka. Juga semua itu berfungsi sebagai penambah pahala dan kedekatan mereka, serta mempertinggi derajat dan pangkat mereka di sisi Allah.

PEMBAHASAN KE EMPAT : KEYAKINAN KEPADA PARA UTUSAN ALLAH 'ALAHIMUS SALAAM (8)

Soal
Sifat apakah yang mustahil ada pada diri para Nabi Alaihimus Salam ?
Jawab
Sifat yang mustahil ada pada diri para Nabi Alaihimus Salam ada empat, yaitu Kadzib (Pembohong), 'Isyaan (Durhaka), Kitman (Menyembunyikan ajaran) dan Ghoflah (Pelupa). Begitupun mustahil ada pada diri para Nabi setiap sifat cacat (kekurangan) yg ada pada manusia meskipun itu tidak berdosa seperti memiliki pekerjaan atau nasab yg jelek atau sesuatu yang menjadi kekurangan menyangkut hikmah atas diutusnya mereka, seperti bisu dan tuli.

PEMBAHASAN KE EMPAT : KEYAKINAN KEPADA PARA UTUSAN ALLAH 'ALAHIMUS SALAAM (7)

Soal
Sifat apakah yang wajib ada pada diri para Nabi Alaihimus Salam ?
Jawab
Sifat yang wajib ada pada diri para Nabi Alaihimus Salam ada empat, yaitu Sidq (Jujur),  manah (dapat dipercaya), Tabligh (Menyampaikan Risalah) dan Fathanah (Cerdas). Makna Sidq bagi mereka adalah
bahwasanya berita yg dibawa para Nabi tersebut cocok dengan kenyataan dan sesuai dengan perintah, tidak mungkin ada kebohongan sedikitpun pada diri mereka. Makna Amanah bagi mereka adalah
bahwasanya baik lahir maupun bathin mereka terjaga dari hal2 yang
tidak diridlai oleh Tuhan yg telah memilih mereka dari seluruh manusia.
Makna Tablgh bagi mereka adalah bahwasanya mereka menerangkan
kepada manusia segala hal yg telah diperintahkan oleh Allah untuk
disampaikan dengan penjelasan yg paling baik dan mereka tidak
menyembunyikannya sedikitpun. Seangkan makna fathonah bagi
mereka adalah bahwasanya para Nabi tersebut adalah manusia paling
sempurna daya ingat dan pemahamannya.

PEMBAHASAN KE EMPAT : KEYAKINAN KEPADA PARA UTUSAN ALLAH 'ALAHIMUS SALAAM (6)

Soal
Apakah perbedaan antara Mu'jizat dengan Karomah ?
Jawab
Karomah adalah kejadian luar biasa yg keluar dari seorang wali (kekasih Allah) dan karamah tidak berhubungan dengan dakwah kenabian. Adapun mu'jizat berhubungan dengan dakwah kenabian. Wali adalah seseorang yg mengetahui secara mendalam akan Allah dan sifat2 Nya. Mereka adalah orang2 yg taat dan menjauhi dosa serta keburukan. Mereka menjaga diri dari kesenangan dan syahwat. Penampakan karomah pada diri mereka adalah sebagai bentuk kemulyaan dari Tuhan serta tanda kedekatan dan terkabulnya doa mereka. Karomah adalah juga - seperti Mu'jizat para Nabi - diturunkan bagi kaumnya, karena tidak mungkin seseorang menjadi wali kecuali karena mereka mengakui risalah para Rasul Allah dan mengikuti jalan mereka sepenuh hati. Andaikata ada seseorang yg mengaku wali namun tidak mengikuti para jalan Rasul dan bebas membuat jalannya sendiri maka tidak mungkin muncul karomah pada dirinya serta ia
bukan wali Allah, bahkan dia adalah musuh Allah dan Wali syaithan. Sebagaimana telah disiratkan oleh Firman Allah yg berbicara kepada Nabi Alaihis Salam mengenai klaim sebuah kaum yg mengaku mencintai Allah. Firman tersebut adalah :
" Katakanlah (Wahai Nabi), jika kalian mengaku mencintai Allah maka ikutilah jalanku (Nabi), maka Allah akan mencintai kalian dan Dia akan mengampuni dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun serta Maha
Pengasih. Katakanlah (Wahai Nabi) "Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul. Jika kalian berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang2 Kafir" (Surah Ali 'Imron 32).

PEMBAHASAN KE EMPAT : KEYAKINAN KEPADA PARA UTUSAN ALLAH 'ALAHIMUS SALAAM (5)

Soal
Apakah perbedaan antara Mu'jizat dengan Sihir ?
Jawab
Sihir adalah hal luar biasa di luar akal yg mungkin untuk ditandingi. Karena sihir terjadi karena sebab2 tertentu yg barangsiapa mengetahui rahasianya dan bisa mendatangkan sebab tersebut maka dia bisa melakukan sihir tersebut. Sebenarnya, sihir itu bukanlah sesuatu yg luar biasa, karena menjadi luar biasa karena orang yg melihatnya tidak mengetahui rahasia penyebab terjadinya sihir. Adapun mu'jizat adalah benar2 hal luar biasa diluar kebiasaan yg tidak mungkin ditandingi. Maka tidaklah mungkin para tukang sihir dapat melakukan apa yg dilakukan para Nabi, baik membuat orang mati menjadi hidup, ataupun merubah tongkat menjadi ular. Oleh karena itu, para tukang sihir Fir'aun beriman kepada Nabi Musa saat mereka melihat tongkat beliau menjadi ular yg nyata, dan mereka pun melempar tongkat serta tali tamparnya karena mengetahui bahwa apa yg terjadi pada tongkat Nabi Musa bukanlah sebuah sihir. Sihir itu bersumber dari jiwa yang penuh nafsu amarah keburukan dan menghasilkan kerusakan. Sedangkan mu'jizat berasal dari jiwa yang suci dan mengahasilkan kebaikan dan petunjuk.

PEMBAHASAN KE EMPAT : KEYAKINAN KEPADA PARA UTUSAN ALLAH 'ALAHIMUS SALAAM (4)

Soal
Bagaimana bentuk penjelasan yg menunjukkan bahwa mu'jizat sebagai pembenar para Nabi serta kecocokannya dengan hadist qudsi di atas ?
Jawab
Penjelasan yg menunjukkan bahwa mu'jizat sebagai pembenar para Nabi bisa dimengerti dengan contoh – dan bagi Allah sebaik baik contoh - berikut :
Seandainya ada seseorang yg berdiri dalam di balai pertemuan yg besar, di depan seorang raja besar yang bijak : “ Wahai sekalian manusia, saya adalah utusan dan kepercayan Raja yg mulai ini bagi kalian. Dia mengutusku untuk menyampaikan sesuatu kepada kalian. Raja ini mengetahui apa yg kukatakan, dia mendengar apa yg kuucapkan dan dia juga melihatku. Tanda bahwa saya tidak berbohong adalah saya akan meminta raja untuk berbuat sesuatu yg tidak biasa dilakukan (biasanya memerintah maka kali ini akan diperintah), maka dia (raja) akan menuruti apa yg saya minta.
Kemudian orang tersebut berkata kepada raja “wahai raja, jika Engkau membenarkan apa yg saya sampaikan, mohon anda berbuat sesuatu diluar kebiasaan anda (dari memerintah menjadi diperintah). Tolong anda berdiri 3 kali berturut turut “!.
Kemudian raja yg bijak tersebut melakukan apa yg diperintahakan orang tersebut. Maka jamaah yg hadir akan tahu seketika bahwa orang tersebut benar dengan apa yg telah disampaiakannya. Maka perubahan kebiasaan Raja tersebut cocok dengan ucapannya bahwa dia benar2 telah memerintahkan orang tersebut dan tidak ada lagi manusia yg ragu bahwa dia benar2 utusan raja. Para Nabi 'Alahim Salam telah menyampaikan risalah Allah yg diturunkan kepada mereka kepada manusia, dan Dia (Allah) Maha
Mengetahui, Maha Mendengar dan Maha Melihat atas dakwah para Nabi tersebut. Apabila mereka memohon kepada Allah untuk menampakkan mu'jizat luar biasa dan diluar kebiasaan manusia yg tidak bisa ditiru oleh manusia biasa, maka Allah akan mengabulkannya dan memberi para Nabi tersebut kemampuan untuk menampakkan mu'jizat tersebut. Maka hal itu menjadi pembenar dari Allah atas apa yg diperbuat bagi para Nabi (dakwah mereka). Mu'jizat itu sama seperti pembenaran dengan ucapan bahkan lebih dari itu mu'jizat menjadi sesuatu yg wajib sebagai bukti akan kebenaran para Nabi dalam menyampaikan risalah. Karena pembenaran dari Allah yg Maha bijak dan Maha Mengetahui serta Maha Kuasa atas para pendusta, adalah suatu hal yg jelas bisa terjadi. Apalagi, mu'jizat adalah sebagai salah satu bukti kebenaran para Nabi disamping bukti lain akan kenabian mereka, yakni sifat dan perbuatan para Nabi tersebut yg benar benar
baik serta sangat sempurna.