PEMBAHASAN KE EMPAT : KEYAKINAN KEPADA PARA UTUSAN ALLAH 'ALAHIMUS SALAAM (9)
Soal
Jika memang sifat durhaka tidak terdapat pada diri para Nabi, maka bagaimanakah dengan peristiwa Nabi Adam yg memakan buah khuldi yg dilarang untuk dimakan ?
Jawab
Sesungguhnya peristiwa itu terjadi karena Nabi Adam dalam keadaan lupa. Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman dalam Surat Thaaha 115 :
“ Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat “.
Dan orang yg lupa tidaklah terhitung durhaka dan tidak dimintai pertanggung jawaban. Adapun penisbatan dosa bagi Adam dalam firman Allah subhaanahu wata'ala dalam surat Thaaha 121:
“ Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.”
Maka Allah memilih Adam dan Adampun bertaubat kepadaNya sehingga Allah memberinya petunjuk (hidayah). Karena sumber kesalahan kepada Allah adalah karena lupa yg timbul dari kesadaran penuh Adam. Sementara kesalahan yg diperbuat semata mata karena lupa tidaklah terhitung sebagai dosa bagi pelakunya. Namun hal itu (melakukan kesalahan karena lupa) terhitung sebagai maksiyat bagi Nabi Adam untuk menunjukkan kemulyaan kedudukan beliau dan ketinggian derajatnya. Meski kesalahan itu kecil namun dianggap sebagai kesalahan besar. Adapun keputusan Allah Subhaanahu Wata'ala kepada Adam karena kesalahannya – yaitu menurunkannya ke dunia ini , pengakuan Adam akan kesalahannya dan terus
menerusnya Adam beristighfar – maka hal itu semata mata untuk menambah ketinggian derajat Adam. Karena hal itu membuat pahala dan kebaikannya bertambah.
Semua itu juga dianalogikan bagi setiap kesalahan dan dosa yg diperbuat oleh para Nabi. Karena kesalahan itu dirangkaikan dengan ketinggian kedudukan mereka, dan kesalahan mereka semata mata terjadi karena berhubungan dengan kesempurnaan ketaatan mereka kepada Allah. Kesalahan dan dosa itu tidak terjadi sebagaimana yg terjadi pada manusia selain mereka karena perbuatan itu terjadi disebabkan taawwul atau karena lupa dan tanpa sengaja. Adapun kesadaran dan permohonan ampuna mereka atas kesalahan tersebut, hal itu adalah sebagai sarana menambah ma'rifat (pengetahuan) mereka akan Tuhannya, ketinggian wara' (kehati hatian) serta taqwa mereka. Juga semua itu berfungsi sebagai penambah pahala dan kedekatan mereka, serta mempertinggi derajat dan pangkat mereka di sisi Allah.
Jika memang sifat durhaka tidak terdapat pada diri para Nabi, maka bagaimanakah dengan peristiwa Nabi Adam yg memakan buah khuldi yg dilarang untuk dimakan ?
Jawab
Sesungguhnya peristiwa itu terjadi karena Nabi Adam dalam keadaan lupa. Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman dalam Surat Thaaha 115 :
“ Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat “.
Dan orang yg lupa tidaklah terhitung durhaka dan tidak dimintai pertanggung jawaban. Adapun penisbatan dosa bagi Adam dalam firman Allah subhaanahu wata'ala dalam surat Thaaha 121:
“ Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.”
Maka Allah memilih Adam dan Adampun bertaubat kepadaNya sehingga Allah memberinya petunjuk (hidayah). Karena sumber kesalahan kepada Allah adalah karena lupa yg timbul dari kesadaran penuh Adam. Sementara kesalahan yg diperbuat semata mata karena lupa tidaklah terhitung sebagai dosa bagi pelakunya. Namun hal itu (melakukan kesalahan karena lupa) terhitung sebagai maksiyat bagi Nabi Adam untuk menunjukkan kemulyaan kedudukan beliau dan ketinggian derajatnya. Meski kesalahan itu kecil namun dianggap sebagai kesalahan besar. Adapun keputusan Allah Subhaanahu Wata'ala kepada Adam karena kesalahannya – yaitu menurunkannya ke dunia ini , pengakuan Adam akan kesalahannya dan terus
menerusnya Adam beristighfar – maka hal itu semata mata untuk menambah ketinggian derajat Adam. Karena hal itu membuat pahala dan kebaikannya bertambah.
Semua itu juga dianalogikan bagi setiap kesalahan dan dosa yg diperbuat oleh para Nabi. Karena kesalahan itu dirangkaikan dengan ketinggian kedudukan mereka, dan kesalahan mereka semata mata terjadi karena berhubungan dengan kesempurnaan ketaatan mereka kepada Allah. Kesalahan dan dosa itu tidak terjadi sebagaimana yg terjadi pada manusia selain mereka karena perbuatan itu terjadi disebabkan taawwul atau karena lupa dan tanpa sengaja. Adapun kesadaran dan permohonan ampuna mereka atas kesalahan tersebut, hal itu adalah sebagai sarana menambah ma'rifat (pengetahuan) mereka akan Tuhannya, ketinggian wara' (kehati hatian) serta taqwa mereka. Juga semua itu berfungsi sebagai penambah pahala dan kedekatan mereka, serta mempertinggi derajat dan pangkat mereka di sisi Allah.
0 komentar:
Posting Komentar